LAPORAN PENDAHULUAN
RESUME ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN TRAUMA TEMBUS KORNEA
DI POLIKLINIK MATA RSUD Dr. MOEWARDI SOLO
Disusun
Oleh :
PRATAMA
ADY PUTRA
P.1337420114055
PROGRAM
STUDI DIII KEPERAWATAN SEMARANG
JURUSAN
KEPERAWATAN
POLTEKKES
KEMENKES SEMARANG
2015
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA TEMBUS
KORNEA
DI POLIKLINIK MATA RSUD Dr. MOEWARDI SOLO
I.
Pengertian
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea. Sedang
Laserasi kornea adalah ulkus yang dalam (Mansjoer, A. et all, 1999).
II. Etiologi
Trauma tembus
disebabkan benda tajam atau benda asing masuk kedalam bola mata.
III. D. Tanda Dan Gejala
1) Tajam
penglihatan yang menurun
2) Tekanan
bola mata rndah
3) Bilikmata
dangkal
4) Bentuk
dan letak pupil berubah
5) Terlihat
adanya ruptur pada corneaatau sclera
6) Terdapat
jaringan yang prolapsseperti caiaran mata iris,lensa,badan kaca atau retina
7) Kunjungtiva
kemotis
IV.
Anatomi Dan
Fisiologi Mata
Secara garis besar anatomi
mata dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, dan untuk ringkasnya fisiologi
mata akan diuraikan secara terpadu. Keempat kelompok ini terdiri dari :
1) Palpebra
Dari luar ke dalam terdiri dari:
kulit, jaringan ikat lunak, jaringan otot, tarsus, vasia dan konjungtiva.
Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, bekerja
sebagai jendela memberi jalan masuknya sinar kedalam bola mata, juga membasahi
dan melicinkan permukaan bola mata.
2) Rongga
mata
Merupakan suatu rongga yang
dibatasi oleh dinding dan berbentuk sebagai piramida kwadrilateral dengan
puncaknya kearah foramen optikum. Sebagian besar dari rongga ini diisi oleh
lemak, yang merupakan bantalan dari bola mata dan alat tubuh yang berada di
dalamnya seperti: urat saraf, otot-otot penggerak bola mata, kelenjar air mata,
pembuluh darah
3) Bola
mata
Menurut fungsinya maka
bagian-bagiannya dapat dikelompokkan menjadi:
- Otot-otot
penggerak bola mata
- Dinding
bola mata yang teriri dari: sclera dan kornea. Kornea kecuali sebagai dinding
juga berfungsi sebagai jendela untuk jalannya sinar.
- Isi
bola mata, yang terdiri atas macam-macam bagian dengan fungsinya masing-masing
4) Sistem
kelenjar bola mata
Terbagi menjadi dua bagian:
- Kelenjar
air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata
- Saluran
air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva ke dalam rongga
hidung
V. Penatalaksanaan
Bila terlihat salah satu tanda diatas atau dicurigai
adanya perforasi bola mata, maka secepatnya dilakukan pemberian antibiotik
topical, mata ditutup, dan segera dikirim kepada dokter mata untuk dilakukan
pembedahan. Sebaiknya dipastikan apakah ada benda asing yang masuk ke dalam
mata dengan membuat foto. Pada pasien dengan luka tembus bola mata selamanya
diberikan antibiotik sistemik atau intravena dan pasien dikuasakan untuk
kegiatan pembdahan. Pasien juga diberi antitetanus provilaksis, dan kalau perlu
penenang. Trauma tembus dapat terjadi akibat masuknya benda asing ke dalam bola
mata. Benda asing didalam bola mata pada dasarnya perlu dikeluarkan dan segera
dikirim ke dokter mata. Benda asing yang bersifat magnetic dapat dikeluarkan
dengan mengunakan magnet raksasa. Benda yang tidak magnetic dikeluarkan dengan
vitrektomi. Penyulit yang dapat timbul karena terdapatnya benda asing
intraokular adalah indoftalmitis, panoftalmitis, ablasi retina, perdarahan
intraokular dan ftisis bulbi.
VI.
Patofisiologi
Trauma
tembus pada mata karena benda tajam maka dapat mengenai organ mata dari yang
terdepan sampai yang terdalam. Trauma tembus bola mata bisa mengenai :
1)
Palpebra
Mengenai
sebagian atau seluruhnya jika mengenai levator apaneurosis dapat menyebabkan
suatu ptosis yang permanen
2)
Saluran Lakrimalis
Dapat
merusak sistem pengaliran air mata dai pungtum lakrimalis sampai ke rongga
hidung. Hal ini dapat menyeabkan kekurangan air mata.
3)
Congjungtiva
Dapat
merusak dan ruptur pembuluh darah menyebabkan perdarahan sub konjungtiva
4)
Sklera
Bila ada
luka tembus pada sklera dapat menyebabkan penurunan tekana bola mata dan kamera
okuli jadi dangkal (obliteni), luka sklera yang lebar dapat disertai prolap
jaringan bola mata, bola mata menjadi injury.
5)
Kornea
Bila ada
tembus kornea dapat mengganggu fungsi penglihatan karena fungsi kornea sebagai
media refraksi. Bisa juga trauma tembus kornea menyebabkan iris prolaps,
korpusvitreum dan korpus ciliaris prolaps, hal ini dapat menurunkan visus
6)
Uvea
Ila luka
dapat menyeabka pengaturan banyaknya cahay yang masuk sehinggan muncul
fotofobia atau penglihatan kabur
7)
Lensa
Ila ada
trauma akan mengganggu daya fokus sinar pada retina sehingga menurunkan daya
refraksi dan sefris sebagai penglihatan menurun karena daya akomodasi tisak
adekuat.
8)
Retina
Dapat
menyebabkan perdarahan retina yang dapat menumpuk pada rongga badan kaca, hal
ini dapat muncul fotopsia dan ada benda melayang dalam badan kaca bisa juga
teri oblaina retina.
VII.
Pathway
Trauma Mata Pada Kornea
Edema Kornea Erosi Kornea Laserasi Kornea +
Perforasi
Kornea
Edema Kornea
(Cairan
Terkumpul di bawah epitel)
Kekeruhan yang menetap Menjadi
Vesikel Tekanan intraokular
¯ meningkat
Jaringan Intraokular Rasa
sakit
Sukar dilihat o/k
tarikan
serat saraf
Pecah
¯
Ulkus Kornea
¯
Rasa
nyeri bertambah
Erosi Kornea
(Terlepasnya epitel kornea)
Menimbulkan
infiltrat Resiko Infeksi Sekunder
(Keratitis)
¯
Kerusakan
epitel
¯
Ulkus Kornea
¯
Rasa sakit pada matanya
(Setiap pergerakan)
L
Lakrimasi dan fotofobia
L
Kelopak mata menjadi kaku
pada pembukaan
L
Blefarospasme
L
Tajam penglihatan menurun
L
Kornea iregular
Laserasi + Perforasi Kornea
(Ulkus
yang dalam)
Cairan bilik mata depan dapat mengalir
keluar Resiko
infeksi sekunder ke dalam jaringan intraokuler
Iris prolap (menyumbat fistel) *
Endoftalmitis
¯ *
Panoftalmintis
Timbul jaringan parut (leukoma
adherens) *
Ptisis bulbi
¯
Penyempitan
sudut COA
(o/k adanya
sinekhia anterior)
¯
Aliran cairan bilik mata di
sudut COA terganggu
¯
Tekanan
intraokular meningkat.
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
Fokus
Pengkajian
Hal yang fokus dikaji adalah : (Ilyas, S., 2000)
1.
Riwayat pekerjaan penderita.
Perlu diketahui
untuk memberikan perawatan pada matanya yang tidak akan mendapatkan hal-hal
yang buruk karena lingkungan pekerjaan. Juga untuk mewasdai trauma kembali.
Penderita yang menderita erosi kornea tentu sangat berbahaya bila berada di
lingkungan yang kotor tanpa menutup bola mata.
2.
Penyakit lain yang sedang diderita.
Bila sedang
menderita penyakit lain dengan keadaan yang buruk maka infeksi yang terjadi di
mata akan sukar disembuhkan. Misal penyakit DM, sepsis atau kelainan
darah.Riwayat penyakit mata sebelumnya
akan dapat menerangkan tambahan gejala-gejala penyakit yamng dikeluhkan.
3.
Riwayat trauma sebelum atau sesudah ada keluhan.
Trauma tumpul
dapat memberikan kerusakan pada seluruh lapis kelopak ataupun bola mata. Trauma
sebelumnya dapat juga memberikan kelainan pada mata tersebut sebelum meminta
pertolongan.
4.
Pemeriksaan khusus Mata
:
L
Sakit untuk mengedip/pergerakan
L
Lakrimasi
L
Fotofobia
L
Kelopak menjadi kaku (blefarospasme)
L
Tajam penglihatan menurun
L
Ada bagian kornea yang jernih (dangkal/tipis)
L
Warna iris seakan-akan berwarna lebih hitam.
Bila telah terjadi perforasi :
L
Pupil akan terlihat lonjong.
L
Cairan bilik mata depan dapat mengalir keluar
L
Cairan COA mengandung fibrin
L
Bisa terbentuk jaringan parut di kornea
L
Iris prolap.
B.
Data
Penunjang :
1.
Pemeriksaan Laboratorium, seperti :.
SDP, leukosit
, kemungkinan adanya infeksi sekunder.
2.
Pemeriksaan kultur. Untuk mengetahui jenis kumannya.
3.
Kalau perlu pemeriksaan tonometri Schiotz, perimetri,
gonioskopi, dan tonografi, maupun funduskopi (Ilyas, S., 2000)
C.
Pengobatan :
1.
Pengobatan pada tukak kornea bertujuan :
a.
Menghalangi hidupnya bakteri, dengan antibiotika.
b.
Mengurangi reaksi radang, dengan steroid.
2.
Secara umum tukak diobati sebagai berikut :
a.
Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga akan berfungsi
sebagai inkubator.
b.
Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali satu hari.
c.
Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaukoma sekunder.
d.
Debridement sangat membantu penyembuhan.
e.
Diberi antibiotika yang sesuai dengan kausa. Biasanya
diberi lokal kecuali keadaan berat.
3.
Pengobatan dihentikan bila sudah terjadi epitelialisasi
dan mata terlihat tenang.
4.
Pada tukak kornea dilakukan pembedahan atau
keratoplasti apabila :
a.
Dengan pengobatan tidak sembuh.
b.
Terjadinya jaringan parut yang mengganggu penglihatan.
D.
Diagnosa
Keperawatan
1.
Nyeri akut berhubungan dengan imflamasi pada kornea
atau peningkatan tekanan intraokular.
2.
Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan
kerentanan sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
3.
Risiko terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan
penglihatan.
4.
Ansietas berhubungan dnegan kehilangan penglihatan
aktual/potensial dan dampak yang dirasakan dari penyakit kronik pada gaya
hidup.
5.
Risiko terhadap gangguan konsep diri berhubungan dengan
efek-efek keterbatasan penglihatan.
E.
Intervensi
Diagnosa No. 1
Tujuan
: Nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria
hasil : Klien akan :
L
Melaporkan penurunan nyeri progresif dan
penghilangan nyeri setelah intervensi.
L
Klien tidak gelisah.
Intervensi :
1.
Lakukan tindakan penghilangan nyeri yang non invasif
dan non farmakologi, seperti berikut :
a.
Posisi : Tinggikan bagian kepala tempat tidur,
berubah-ubah antara berbaring pada punggung dan pada sisi yang tidak sakit.
b.
Distraksi
c.
Latihan relaksasi
R/ Tindakan penghilangan nyeri yang non invasif
dan nonfarmakologi memungkinkan klien untuk memperoleh rasa kontrol terhadap
nyeri.
2.
Bantu klien dalam mengidentifikasi tindakan
penghilangan nyeri yang efektif.
R/ Klien kebanyakan mempunyai pengetahuan yang
mendalam tentang nyerinya dan tindakan penghilangan nyeri yang efektif.
3.
Berikan dukungan tindakan penghilangan nyeri dengan
analgesik yang diresepkan.
R/ Untuk beberapa klien terapi farmakologi
diperlukan untuk memberikan penghilangan nyeri yang efektif.
4.
Beritahu dokter jika nyeri tidak hilang setelah 1/2 jam
pemberian obat, jika nyeri bertambah.
R/ Tanda ini menunjukkan peningkatan tekanan intraokular atau komplikasi
lain.
Diagnosa
No.2
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil : Klien akan :
L
Menunjukkan penyembuhan tanpa gejala infeksi.
L
Nilai Labotratorium : SDP normal, kultur negatif.
Intervensi :
1.
Tingkatkan penyembuhan luka :
a.
Berikan dorongan untuk mengikuti diet yang seimbang dan
asupan cairan yang adekuat.
b.
Instruksikan klien untuk tetap menutup mata sampai
diberitahukan untuk dilepas.
R/ Nutrisi
dan hidrasi yang optimal meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, yang
meningkatkan penyembuhan luka pembedahan. Memakai pelindung mata meningkatkan
penyembuhan dengan menurunkan kekuatan iritasi.
2.
Gunakan tehnik aseptik untuk meneteskan tetes mata :
a.
Cuci tangan sebelum memulai.
b.
Pegang alat penetes agak jauh dari mata.
c.
Ketika meneteskan, hindari kontak antara mata, tetesan
dan alat penetes.
d.
Ajarkan tehnik ini kepada klien dan anggota
keluarganya.
R/ Tehnik
aseptik meminimalkan masuknya mikroorganisme dan mengurangi risiko infeksi.
3.
Kaji tanda dan gejala infeksi .
a.
Kemerahan, edema pada kelopak mata.
b.
Injeksi konjungtiva (pembuluh darah menonjol).
c.
Drainase pada kelopak mata dan bulu mata.
d.
Materi purulen pada bilik anterior (antara kornea dan
iris).
e.
Peningkatan suhu.
f.
Nilai laboratorium abnormal (misal : peningkatan SDP,
hasil kultur ).
R/ Deteksi
dini infeksi memungkinkan penanganan yang cepat untuk meminimalkan keseriusan
infeksi.
4.
Beritahu dokter tentang semua drainase yang terlihat
mencurigakan.
R/ Drainase
abnormal memerlukan evaluasi medis dan kemungkinan memulai penanganan
farmakologi.
5.
Kolaborasi dengan dokter dengan pemberian antibiotika
dan steroid..
R/ Mengurangi
reaksi radang, dengan steroid dan
menghalangi hidupnya bakteri, dengan antibiotika.
Daftar Pustaka
Carpenito, L.J. (1999). Rencana
Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2. Jakarta : EGC
(2000). Diagnosa Keperawatan dan Masalah
Kolaboratif. Ed. 8. Jakarta : EGC
Darling, V.H. & Thorpe, M.R. (1996). Perawatan Mata. Yogyakarta : Yayasan Essentia Media.
Ilyas, Sidarta. (2000). Kedaruratan
Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI Jakarta.
Mansjoer, A. (1999). Kapita
Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI Jakarta.
Wijana, Nana. (1983). Ilmu
Penyakit Mata. Jakarta : FKUI Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar